Keguguran

Tidak sedikit pasangan suami-istri yang baru menikah ingin secepatnya mendapatkan momongan. Sehingga mereka melakukan berbagai cara agar bisa cepat hamil, mulai dari berobat ke dokter spesialis, pengobatan herbal, terapi pijat, terapi akupuntur, dan lain sebagainya.

Tatkala usaha mereka berhasil dan sang istri akhirnya hamil, mereka mendapatkan kebahagiaan yang begitu besar. Tapi karena suatu sebab, mau tidak mau mereka harus rela melepaskan kepergian calon buah hati tanpa bisa melihatnya terlahir di dunia terlebih dahulu.

Sangat menyakitkan memang, bahkan bisa membuat shock berat terutama bagi ibu hamil muda ketika divonis dokter telah mengalami keguguran. Padahal hanya mengalami pendarahan atau flek pada saat hamil, yaitu usia kehamilan trimester pertama. 

Wajar jika ibu hamil merasa sedih yang berkepanjangan tatkala harus kehilangan calon bayi yang ada di dalam kandungan. Karena meskipun usia janin baru beberapa minggu, bahkan masih disebut embrio, ikatan batin antara ibu dan janin sudah mulai terjalin. Sehingga keberadaan janin sudah dapat dirasakan oleh sang ibu.

Terkadang muncul perasaan bersalah dan juga rasa penasaran. Kenapa Saya bisa mengalami keguguran, padahal saya sudah menjaganya dengan sangat baik, bahkan melebihi saat menjaga diri sendiri? Padahal, faktor yang bisa memicu keguguran sangat lah banyak, bahkan sering kita tidak menyadarinya.

Sebelum kita membahas faktor penyebab terjadinya keguguran, kita perlu tahu terlebih dahulu apa itu keguguran? Tanda-tandanya, solusinya, jenisnya, dan beberapa info seputar ibu hamil yang mungkin bisa membantu Bunda agar tidak sampai mengalami keguguran.

Kami hellobunda.com akan memaparkan beberapa pertanyaan umum dan tips ibu hamil yang sering terjadi saat seorang wanita hamil mengalami keguguran. Berikut beberapa informasi seputar kehamilan yang berhubungan dengan keguguran:

Apa itu keguguran?

Keguguran adalah keluarnya atau hilangnya embrio maupun janin sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu. Istilah medisnya disebut abortus spontan. Faktanya, 8 dari 10 kasus keguguran terjadi pada ibu hamil muda, sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa keguguran pada umumnya terjadi di awal kehamilan (kehamilan trimester pertama), yaitu usia kehamilan 3 bulan pertama.

Banyak wanita hamil yang tidak menyadari bahwa keguguran memang sesuatu hal yang umum terjadi. Sehingga dia cenderung menyalahkan diri sendiri atas kasus keguguran yang menimpanya. Padahal, jika diberi perbandingan, dalam 10 kali hamil, ada 1-2 kali janin yang akan mengalami keguguran.

Apa penyebab keguguran?

Tidak sedikit wanita hamil yang bersedih saat mengalami keguguran, bahkan sampai menyalahkan diri sendiri. Wajar saja, karena mereka sudah bersusah payah untuk hamil, tapi pada saat keinginanya terwujud, harus rela kehilangan calon buah hati.

Banyak yang beranggapan bahwa keguguran disebabkan oleh kegiatan yang dilakukan wanita hamil itu sendiri, hubungan intim suami-istri, jatuh ringan, olah raga, dan aktivitas lainnya. Padahal, anggapan itu belum tentu benar, karena tidak ada yang bisa mengetahui dengan pasti apa sebenarnya penyebab keguguran bisa terjadi, bahkan seorang penyedia layanan kesehatan sekalipun.

Akan tetapi, ada beberapa faktor yang bisa menjadi indikator kemungkinan terjadinya keguguran lebih tinggi, antara lain:
a. Embrio atau janin memiliki kromosom yang menyebabkan ia tumbuh dan berkembang secara abnormal. Hal ini terjadi secara kebetulan ketika telur yang dibuahi sedang membelah dan tumbuh. Sehingga tidak bisa dijadikan patokan masalah ini akan terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. Setidaknya setengah dari kasus keguguran disebabkan oleh masalah ini.
b. Faktor usia yang semakin bertambah juga menyebabkan risiko keguguran lebih tinggi.
c. Penyakit kronis, seperti: diabetes yang tidak terkontrol, rheumatoid arthritis (artritis reumatoid, yaitu radang sendi akut), dan lupus.
d. Adanya infeksi yang serius dan trauma berat.
e. Adanya kelainan pada rahim, seperti rahim fibroid atau juga dikenal dengan istilah miom, leiomiom uteri, fibroid uterus, fibromiom, atau fibro leiomiom.
f. Obesitas atau sebaliknya terlalu kurus.
g. Wanita yang pernah mengalami keguguran dua kali atau lebih secara berturut-turut.
h. Merokok, penggunaan obat-obatan terlarang, alkohol, maupun pengguna kafein berat.

Apa saja tanda-tanda keguguran?

Ada beberapa tanda-tanda keguguran, antara lain:
• Pendarahan vagina atau spotting
• Sakit perut hebat
• Kram parah
• Perubahan keputihan

Meskipun tanda-tanda tersebut tidak selalu menjadi indikator terjadinya keguguran, namun, alangkah baiknya jika Bunda dan pasangan selalu waspada saat mengalami salah satu tanda-tanda keguguran di atas, dan segera konsultasi ke dokter.

Ada berapa jenis keguguran?

Selama ini, kita tahu bahwa setiap embrio maupun janin yang keluar sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu disebut keguguran. Tapi kita tidak pernah tahu ada berapa jenis keguguran. Padahal, keguguran sendiri terbagi menjadi 5 macam.

Berikut 5 jenis keguguran:
1. Terancam keguguran

Seorang wanita hamil mengalami pendarahan atau bercak darah, baik disertai kram perut maupun tidak, tetapi leher rahim masih tertutup. Jika pendarahan ini berlangsung lama dan parah, kemungkinan terjadinya keguguran lebih tinggi. Akan tetapi, jika pendarahan berhenti, kemungkinan kehamilan Bunda terselamatkan dan kembali berjalan normal. Setengah dari kasus keguguran termasuk dari jenis keguguran ini.

2. Keguguran tidak bisa dihindari

Tingkat pendarahan yang dialami oleh wanita hamil semakin parah, yang disertai dengan pembukaan leher rahim. Dalam kasus seperti ini, kemungkinan besar terjadi keguguran sangat tinggi, sehingga kehamilan tidak dapat diselamatkan atau dilanjutkan.

3. Keguguran tidak sempurna

Seorang wanita hamil mengalami keguguran, namun hanya sebagian jaringan hasil konsepsi dari proses kehamilan yang keluar dari rahim. Sebagian hasil konsepsi lainnya masih berada di dalam rahim.

Dalam kasus keguguran seperti ini, terkadang membutuhkan pengobatan untuk mengeluarkan sisa-sisa hasil konsepsi yang masih tertinggal agar rahim bersih, atau bisa dengan melakukan operasi kecil seperti kuretase dan dilatasi. Namun, sebagian wanita hamil lainnya tidak membutuhkan pengobatan karena hasil konsepsi yang tersisa dalam jumlah sedikit dan akan bersih dengan sendirinya.

Pembersihan sisa hasil konsepsi di rahim berguna untuk mencegah komplikasi maupun infeksi pada rahim, seperti: kram perut yang berkepanjangan hingga beberapa hari setelah keguguran, pendarahan terus-menerus, dan menjadi faktor penyebab tumbuhnya tumor (miom) di kemudian hari.

4. Keguguran sempurna

Keguguran jenis ini merupakan kebalikan dari jenis keguguran poin 3 di atas. Yaitu terjadi keguguran pada wanita hamil dan semua jaringan hasil konsepsi dari proses kehamilan ikut keluar (tidak ada yang tersisa di dalam rahim). Sehingga tidak memerlukan pengobatan khusus, kuretase, dilatasi, maupun sejenisnya.

5. Keguguran yang tidak terdeteksi

Kasus keguguran yang satu ini sering kali menimpa ibu hamil muda. Dan anehnya, beberapa dari mereka tidak menyadari bahwa kehamilannya telah berakhir. Karena terkadang tidak ada tanda-tanda keguguran yang signifikan. Sehingga pada saat wanita hamil tersebut periksa kunjungan perawatan prenatal ke dokter, bidan, maupun penyedia layanan kesehatan wanita hamil tersebut baru mengetahuinya.

Pada kasus keguguran seperti ini, sang ibu hamil harus melakukan pengobatan untuk membersihkan rahim dari semua jaringan proses kehamilan. Biasanya, dokter maupun penyedia layanan kesehatan akan melakukan dilatasi, kuretase, maupun vakum aspirasi. Vakum aspirasi adalah memasukkan tabung plastik tipis ke dalam rahim guna membersihkan rahim dari jaringan hasil konsepsi dengan cara menghisap secara lembut.

Bagaimana perasaan wanita hamil setelah mengalami keguguran?

Hampir semua wanita hamil setelah mengalami keguguran akan merasa bersedih, putus asa, kecewa, hingga shock berat, bahkan ada yang menyalahkan diri sendiri. Hal ini normal dan wajar. Namun, Bunda harus ingat:
• Keguguran merupakan hal yang normal terjadi pada setiap wanita hamil, bukan merupakan sebuah kesalahan.
• Rasa bersedih yang dialami seorang wanita setelah mengalami keguguran adalah wajar. Karena merupakan respon alami. Dan hal ini tidak boleh ditolak maupun dilarang.
• Jika Bunda merasa berduka karena kehilangan calon bayi, begitu juga dengan pasangan Bunda, dia pun ikut merasakannya. Akan tetapi cara dia mengungkapkannya berbeda dengan yang Bunda lakukan. Saling mendukung dan menguatkan merupakan hal yang Bunda dan pasangan butuhkan saat itu.
• Lewati masa keguguran dan berpikirnya untuk memulai program hamil berikutnya.
• Jika Bunda belum bisa keluar dari kesedihan tersebut dan belum bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya, maka konsultasilah ke dokter kandungan Bunda.

Bagaimana jika Saya pernah mengalami keguguran lebih dari satu kali?

Jika Bunda pernah mengalami keguguran dua kali bahkan lebih secara berturut-turut, segera konsultasi dokter kandungan untuk mencari tahu apa penyebab dari kondisi yang Bunda alami. Kemungkinan dokter akan menyarankan Bunda untuk melakukan beberapa tes yang mana tes tersebut bisa mendeteksi kelainan genetik, ketidakseimbangan hormon, dan masalah lainnya. Sehingga masalah tersebut segera diatasi guna mempersiapkan kehamilan yang sehat di masa depan.

Demikianlah ulasan singkat mengenai info seputar kehamilan tentang keguguran. Dengan mengetahui pengertian keguguran, penyebabnya, tanda-tandanya, serta hal yang berhubungan dengan keguguran, alangkah baiknya jika Bunda sekalian lebih hati-hati dan waspada dalam menjalani kehamilan yang sehat. Dan ketika mengalami kondisi keguguran, diharapkan tetap semangat dan berpikiran positif demi kelangsungan kehamilan berikutnya. Semoga artikel kehamilan ini bermanfaat!

Leave a Reply